Selasa, 15 Maret 2016

cerita pendek (cerpen)

Dibalik Bulan Februari
oleh: Syifa Indah Suci Ati


Langit tampaknya menunjukkan sisi lainnya, awan hitam itu berburu dengan cepatnya.  Beberapa detik kemudian air mata langit pun turun dengan suaranya yang begitu bising dan menimbulkan aroma tanah yang sangat khas. Aku hanya menatap dalam-dalam rintikan hujan yang semakin deras itu, niatku terurung untuk segera bergegas pulang. Hingga akhirnya aku hanya bisa bertahan di tempat ini. Aku tahu ini sudah memasuki bulan februari, iya kau benar ini bulan penghujan. 
Rekaman kehidupan menyegarkan kembali memoriku yang terhempas ke masa lalu, kembali tergambar jelas,seperti di depanku terdapat sebuah proyektor yang menampilkannya, tepat 28 februari tahun lalu. Masa pahit itu datang menampar jiwaku, sadar betapa gagalnya diriku menjadi seorang pemimpin.
            Kejadian itu membuatku terpukul. Betapa tidak, semua yang telah kita persiapkan selama dua minggu lebih, hancur begitu saja. Aku terlambat berkumpul di ruang guru untuk memberitahu rencana kami. Ketika aku datang, disana hanya ada meja,kursi dan beberapa tumpukan buku tugas.kakiku terguntai lemah mendapati semua. Akhirnya kami tak bisa tampil di acara gelar seni itu, hanya menjadi penonton setia. Panggung tak kami sentuh sedikit pun. Teman-teman menjauhiku dalam waktu lama dan rasa bersalah itu masih bersarang dihatiku, hingga saat ini.
            Angin menyapu ingatanku, aku mulai kembali lagi dengan duniaku. Udara yang semakin dingin membawa kakiku masuk ke ruang kelas. Di sana hanya tinggal beberapa murid yang masih bertahan, mungkin setengah jumlah murid kelas ini, itu pun karena mereka masih mengerjakan tugas yang belum selesai. Aku menatap kosong kelas ini, semua masih terlihat sama.  Sepertinya waktu berjalan begitu lambat memberi waktu untuk hujan berbagi cerita.
            “  Hei! Kok melamun? ada apa ?” Sosok periang itu mengejutkanku
            “   Gak kok, Yu” Ucapku singkat
            “  Serius? Gak mau cerita? Yasudah mungkin Ayu gak bisa dipercaya” Ucap Ayu lirih
            Sosok periang dengan logat jawa yang sudah sangat khas membuat aku tak tega melihatnya menyesal. Tubuh tinggi berkacamata itu lantas kembali larut kedalam buku bacaannya. Menjelajahi setiap halamannya. Mulutku masih bungkam melihat sosoknya yang berubah menjadi pendiam. Aku sudah kenal jelas wataknya, kita sudah berteman baik sejak sekolah dasar.
            “ Yu, benar kau mau dengar ceritaku?” Kataku membuka pembicaraan itu
            Dia mulai melirik kepadaku, buku tebal itu ditutupnya. Pandangannya tetap tidak berubah, memandangku beberapa menit. Hingga akhirnya dia menganguk kecil
            “ Aku harus mulai dari mana?” ucapku bingung
            “ Mungkin dari awal”jawabnya singkat
            “ Hmm.. jadi gini. Kamu tahu kan aku ketua murid di kelas ini dari kelas tujuh?” ucapku
            “ Iya Den, lantas?”
            “ kamu ingat kejadian satu tahun kebelakang? Acara gelar seni itu”
            “ Hmm… tentu saja”
            “ itu semua salahku, aku datang terlambat karena terlalu sibuk di osis sedangkan kalian semua sedang berlatih di rumah Rani. Alhasil kita tak bisa tampil. Jujur saja hal itu masih menggangu pikiranku. Aku takut hal itu terulang lagi”
            “ Aku tahu kamu gak sengaja kok, lagian semua itu telah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur. Apa daya kita tak bisa berbuat apa-apa, waktu pun tak bisa di putar kembali”
            “ Aku takut semua itu terulang”
            “ Raden yang aku kenal itu,orangnya pantang menyerah. Kamu pernah bilangkan ke aku tidak ada kesalahan yang kita lakukan tanpa ada penyebab, penyebab itu pun tidak kita perbuat dengan sengaja. Karena semua orang tak ingin kecewa karena kesalahan itu. inget gak?”
            “ iya aku tahu, tapi masalahnya tidak semudah itu, ini menyangkut banyak orang”
            “ tapi aku yakin kali ini kamu akan lakukan yang terbaik, apapun itu caranya”
            Dalam beberapa detik kemudian, suasana terasa hening. Kami saling membungkam tak ada yang berani angkat bicara. kami larut dalam pikiran masing-masing. Gemercik air hujan semakin lambat. Matahari tampaknya sudah mulai mengintip dibalik awan hitam itu, cahayanya menembus atmosfer langit.
            “ Den kita pulang bareng yuk? Hujan sudah reda ”
            “ baiklah”
Dengan langkah malu, kami pun meninggalkan halaman sekolah dan mulai menapaki jalanan ibu kota yang selalu padat dengan kendaraan dan tak jarang haus akan kemacetan. Tinggal bayang-bayang kami yang tertinggal untuk  beberapa menit  yang lalu. Asap kendaraan menyabut, menyadari betapa kerasnya kehidupan dijalanan. Tak terasa kami sudah samapi di penghujung jalan dan pertigaan jalan itu memaksa kami harus berpisah.
 Kakiku terasa runtuh dibawa berjalan, penat rasanya. Tubuhku lunglai, dengan sisa tenaga kubawa tubuhku beranjak dari tempat itu, tujuanku satu saat ini, mencapai pulau kapuk. Tubuhku pun dengan sigap ditangkap kasur. Dengan perlahan aku menutup mata.
***
Rasa takut itu masih menghantuiku, kesalahan tahun lalu membuatku trauma, rasa percaya diriku hilang seketika. Sosok diriku yang pemberani yang aku kenal sepertinya sudah pergi untuk sementara. Aku hanya mematung dikamar, menatap semua yang bisu.
Tok .. tok …tok..
Suara ketukan pintu itu memecahkan lamunanku, dengan langkah yang berat aku mendekati sosok yang berada di balik pintu hijau itu. senyumnya sudah sangat familiar bagiku. Wajah ayu yang sudah sangat melekat di tubuhnya seperti namanya Ayu.
“ hai Den! “ sapa  Ayu
“ Iya Yu, ada apa? “
“  Gak kok Den, aku hanya ingin main saja sekalian mau belajar bareng”
“ boleh kok, ayo masuk”
Kami beriringin masuk diiringi suara langkah kaki. Di rumah hanya ada kami berdua sehingga suasana terasa kaku. Dalam waktu yang lama, lidah kami masih tak sanggup untuk berkata. Semuanya terasa dingin bagai badai salju sedang berlangsung, membuat bibir kami bergemetar kedinginan. Sehingga kami terlalu asik dengan pikiran masing-masing
“ hmm… Yu sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”
“  aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, aku khawatir kamu masih mengigat kejadian tahun lalu dan membuat kamu takut untuk melangkah”
“ jujur saja aku masih takut, dugaanmu benar aku jauh dari kata baik-baik saja”
“ kenapa Den? Aku tahu kamu bukan orang seperti ini. Sosok dirimu yang berani bertindak dan mengambil resiko pergi kemana? “
“ bukan pergi tapi dia sedang tidur”
“ tidur? Yang benar saja, kau hanya perlu membangunkannya saja. Ingat mimpi burukmu telah berakhir. Semua itu hanya mimpi buruk untuk kita, yang lain sudah terbangun tapi mengapa kamu masih  terus melanjutkanya. Masih banyak mimpi indah yang harus kita kunjungi kamu tak usah terlalu berlarut-larut.  Bila kamu tak cepat keluar dari mimpi itu maka hal yang indah tak akan pernah kau sempat sentuh apalagi untuk meraihnya. Sudah cukup sampai sini, bangun teman. Bila kau tak bangun akan aku coba membangunkanmu apapun caranya”
“ aku masih trauma, aku sudah bangun tapi rasa takut itu masih tertinggal”
“Coba kamu pikirkan, apa dengan kamu diam di tempat gelap kamu akan melihat cahaya? Memang sulit untuk berjalan pada awalnya banyak benda diluar sana yang dapat melukaimu. Tapi semua itu untuk menguji seberapa kuat kita untuk bertahan dan terus melangkah. Bila kamu sudah menemukan seberkas cahaya kau akan menemukan cahaya lain sehingga hidupmu akan lebih terang. Kamu bisa melihat semua yang menghalaumu hingga kau dapat melihat jalan yang benar. Jangan takut, aku akan selalu ada untuk menemanimu, lihatlah semua orang yang terus mendukungmu. Aku percaya kamu bisa, jangan takut akan resikonya tapi cobalah takut bila kita tak mencobanya.” Ucap Ayu
“mungkin perkataanmu benar Yu, akan kucoba untuk bangkit kembali” Jawabku lirih
“ syukurlah kalau kamu sudah mengerti, ingat baik-baik tak akan ada kesuksesan yang diraih tanpa melewati masa sulit” Ucap Ayu meyakikanku
“ makasih Yu, kamu sudah menguatkanku. Aku yakin aku tak akan bisa berdiri kembali bila kamu tak ada sosok sahabat sepertimu. Kamu memang yang paling mengertiku. Makasih selama ini sudah mau menjadi sahabatku”
“ iya Den, aku tahu itu. Aku harus ada untukmu karena aku tahu kamu selalu ada untukku. Itulah teman yang sesungguhnya. Den aku pulang dulu ya! Jangan lupa istirahat. Persiapkan buat besok, kumpulkan nyalimu untuk berbicara di depan kelas. Berbicara pada mereka semua.”
“ Akanku yakinkan diriku untuk mempersiapkan akan hal itu”
***
            Embun pagi sudah menyapaku dengan lembut. Cahaya matahari saling berkejaran  menyetuh tanah.  Aku sudah siap untuk menulis cerita hari ini, siap untuk berbicara di depan mereka semua. Dengan langkah yang pasti aku bergegas ke sekolah menyusuri jalanan aspal itu.
            Waktu terus berputar, pelajaran hari ini pun selesai. Guru bahasa Indonesia itu sudah meninggalkan kelas kami di jam terakhir. Aku menarik napas, menyiapkan diriku. Beranjak dari tempatku hingga posisiku tepat berada di depan kelas. Kucoba melirik mereka, semua sibuk dengan aktivitasnya. Hanya Ayu yang memperhatikan gerak- gerikku dari tadi. Tatapannya tajam penuh arti.
            “ aku mohon perhatiannya” aku mengeluarkan suara dengan nada keras
            Tatapan mereka beralih  seketika penuh tanya.
            “ Ada apa, Den?” Ucap Doni
            “ ini kan sudah memasuki bulan februari seperti yang kalian tahu juga sekolah akan mengadakan gelar seni. Kelas kita mau menampilkan apa?” Ucapku memulai pembicaraan
            “ yang benar saja kamu mau ikutan gelar seni paling nanti kita gak tampil lagi kaya tahun lalu” celetuk salah satu murid
            Hatiku terasa dihempas badai, sakit. Rasanya ingin menyerah. Namun sosok berkacamata itu terus menyemangatiku dengan tatapannya yang membuatku masih bertahan. Tatapan nanar mereka pun ku coba buang jauh-jauh.
            “  Iya betul pada akhirnya kita hanya menjadi penonton. Untuk apa kita berlatih hingga petang” Ucap Rani
            “ dengar dulu penjelasanku. Mungkin dulu kita tidak beruntung tapi lihat sekarang kita punya kesempatan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita bisa dan mempunyai keahlian. Apakah kita akan terus begini ? hanya akan menjadi penonton setia”
            “ tidak beruntung? Itu semua karena kamu” Ucap Doni
            “  bukannya kita mau jadi penonton setia. Tapi kami takut semua gagal karena kamu” Akhirnya Maryam si buku itu juga angkat bicara.
            “ kalau mau kita tampil  gak usah ada campur tangan dari kamu Den, kita akan tampil tanpa kamu” Ucap Doni ngotot
            Ucapan mereka benar, nanti aku hanya membuat kesalahan yang sama. Tubuhku gontai, kaki rasanya tidak sanggup lagi berdiri, air mataku sudah tak terbendung. Aku putuskan untuk berlari, menghindari mereka. Berlari hingga aku sampai di depan rumah. Semua barangku tertinggal di sekolah, tapi aku tidak peduli. Hatiku terasa panas, tak menerima semua ini. Walau aku tahu salah, tapi aku hanya ingin mencoba memperbaikinya.
***
            Kejadian tadi siang masih menghantuiku, rasa bersalah mulai menyelimutiku. Aku seperti pecundang yang berlari begitu saja melepaskan tanggung jawabku apalagi aku ini anak laki-laki. Aku benar- benar payah.
Kamu pasti bisa menyelesaikan semua ini
            Sebuah pesan singkat dari Ayu yang begitu banyak ungkapan harapan dibalik itu . Aku melirik tasku yang diantar oleh Ayu, sungguh dia sahabat yang sangat setia. Aku beruntung memilikinya. Telepon genggam itu masih erat di tanganku. Banyak hal yang sedang merasuki pikiranku.  Tanpa sadar jari tanganku menari diatasnya.

            Aku tahu aku salah waktu itu. tapi apakah kalian tidak memberi kesempatan untuk aku memperbaikinya?   Aku hanya ingin kalian mengerti bahwa aku benar-benar menyesal. Bila aku diberi kesempatan aku akan lakukan yang terbaik. Aku tahu karakter kita berbeda, kita terlahir dari suku yang berbeda juga. Aku hanya ingin kita bersatu meraih semua mimpi bersama. Memang aku bukan ketua murid yang sempurna tapi akan aku coba untuk menyempurnakan mimpi kita. Jangan coba berjalan sendiri karena aku pun tak akan bisa tanpa kalian. Karena aku tahu kita keluarga.

Aku pun mengirimkannya di salah satu sosial media dalam beberapa menit kemudian banyak komentar yang datang. Aku hanya tersenyum senang melihat semuanya. Perasaanku lega. satu misi terakhirku, membuatnya menjadi nyata.
***
            “ Den maaf karena aku menyalahkanmu” Ucap Rani.
            “ aku juga Den, mungkin terbawa emosi” Ucap Doni dengan wajah yang sangat menyesal.
            “ maafkan kami semua, kita gak bermaksud untuk lukain kamu, aku tahu kejadian tahun kemarin tak kau buat sengaja” Ucap Maryam
            “ iya gak apa-apa teman, aku ngerti betapa kecewanya kalian hari itu.  Peluh kalian selama ini yang bercucuran hanya terbuang sia-sia” Ucapku terharu
            “ kita perbaiki semuanya kembali, kita tunjukkan bahwa kita bisa” Ucap Rani
            “ satu hal yang paling penting saat ini. Kita akan menampilkan apa?” Ucap Ayu
            “ drama” Usul Ucok
            “ tari jaipong” Tambah Rani
            “ jaipong? Kalau cowo?” Sahut Kiki
            “ nyanyi lagu daerah” Ucap Maryam
            “ kuda lumping aja” Ucap Doni
            “ main tanjidor aja?” Ucap Dul
            “ kalian gimana sih pada bawa-bawa budaya sukunya masing-masing” Sahut Ayu
            “ karena budaya betawi lebih bagus” Ucap  Dul
            “ sunda” Tambah Rani
“          “jawa lah” Ucap Doni
            “ udah gak usah debat. Negara ini kaya akan budaya. Kita memilki 34 provinsi dan kita saling menghargai akan budaya daerah lain. Kalian tahu semua daerah memilki keistimewaan tersendiri, yang perlu kita lakukan adalah melestarikannya. Semua bisa kita gabungkan menjadi suatu seni yang indah. Karena perbedaan itu ada untuk saling melengkapi. Bila semuaya disatukan pasti akan menjadi seni yang indah”
            “ emang bisa?” Ucap Rani
            “ caranya Den?” Tambah Asep
            “ tidak ada yang tidak mugkin, hanya perlu belajar. Ilmuan contohnya mereka banyak menciptakan hal yang baru yang akhirnya diterima di masyarakat luas. Aku punya ide bagaimana bila sebagian anak perempuan menari jaipong diiringi lagu daerah jawa pada akhirnya tari itu diiringi tanjidor. Untuk penutupnya kita berpuisi tentang budaya negeri ini.  Lalu kita menyanyi lagu kebangsaan Indonesia.Bagaimana setuju?”
            “ boleh aku setuju, diakhir kita pun mengucapkan terima kasih dengan bahasa daerah yang berbeda-beda” Ucap Doni bersemangat
            “ boleh aku setuju” Ucap Ayu, dan diikuti oleh muri lainnya.

            Pada akhirnya mereka setuju akan keputasan itu. Dari masalah yang mereka hadapi saat itu banyak mengajarkan kepada mereka apa artinya persahabatan, kebersamaa, dan perbedaan yang membuat mereka bersatu. Untuk hal yang terpenting mereka tahu bahwa dalam hidup kita tidak boleh berputus asa.

0 komentar:

Posting Komentar