Bintang di Langit-langit Kelas
Oleh : Syifa Indah Suci Ati
Oleh : Syifa Indah Suci Ati
“Hai!” Sapa seseorang
yang berada dibelakangku. Suaranya yang khas sudah sangat familiar di telingaku.
Saat
menoleh kebelakang, aku melihat sosok itu. Sosok yang sudah kuanggap keluarga
sendiri dialah sahabatku, Rani.
Pandanganku
berubah seketika. Mereka yang berada di lapang sekolah kuhiraukan. Tak seperti
biasanya mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan aku sanggup mematung
memperhatikan mereka dengan waktu yang cukup lama dari lantai dua di depan
kelas. Melihat mereka bagiku seperti melihat kepingan kecil skenario kehidupan
di dunia ini. Namun, fokusku sekarang hanya ke satu titik, Rani. Dalam beberapa
detik kemudian kami sudah tenggelam dalam pembicaraan yang seru dan sesekali
suara tawa terdengar diantara pembicaraan yang ringan itu.
Sayang
hal itu tak berlangsung lama. Dering bel masuk sudah memunuhi setiap sudut
sekolah yang tersapu oleh angin. Kami pun yang berada di halaman sekolah
terpaksa harus memberhentikan aktivitas. Dengan langkah yang berat kami
beriringan masuk ke ruang kelas diikuti oleh yang lainnya.
***
Suasana
gaduh yang selalu memunuhi atmosfer kelas tidak membuat kami kekurangan
oksigen. Ocehan teman-temanlah yang menjadi salah satu penyebabnya. Ujung bibir
pun tertarik membuat sebuah senyum melihat pemandangan yang sudah tak asing
lagi bagiku. Tak seperti biasanya aku yang selalu angkat bicara membuat seisi kelas menatap
walau akhirnya aku tahu mereka akan berhenti sejenak lalu membuat kegaduhan
lagi. Huftt menyebalkan.
Bahagia
melihat tingkah mereka yang menyebalkan dan keras kepala. Melihat mereka yang penuh aksi dan selalu
membuat hati menari bahagia. Rasa sedihpun datang menerpa, ketika sadar hal ini
tidak akan kurasakan lagi untuk waktu yang cukup lama. Setelah dua tahun lebih
kita bersama apakah kita harus berpisah? Setiap pertemuan pasti ada perpisahan
jawabannya. Tapi apakah aku sanggup berpisah dengan mereka? Perpisahan memang
hal yang menyebalkan bagiku. Kalau saja aku bisa menghapus kata perpisahan
mungkin di dunia ini tak akan ada yang bersedih. Namun sayang itu hanya sebuah
ketidakmungkinan.
Bah
air mata pun jatuh tak terbendung, untung saja hujan air mata bisa kuhindari.
Dengan cepat kuusap sudut mata dengan ujung lengan baju. Aku tatap langit-langit
kelas yang penuh hiasan ornamen bintang. Indah pikirku.
“Hei!!
Kok bengong sih?”Tanya
Rani mengejutkanku
“Eh…
ngak kok Ran, liat itu tuh” Ucapku sambil menunjuk ke atas
“Oh
itu... tapi mata kamu kok merah.
Jangan- jangan…”Tanya Rani curiga
Dengan
cepat aku menyela pembicaraan Rani dengan rasa khawatir “Indah kan? Aku suka
sekali hiasan bintang itu, kalau kamu Ran?” Ucapku terbata-bata
“
Hmm.. iya indah banget Lis” Ucap Rani sambil tersenyum
Sepertinya
Rani curiga melihat tingkahku, dengan cepat aku langsung menyibukkan diri dan
tak berani berpapasan dengannya. Dalam beberapa detik kemudian suasana terasa
hening. Kami saling terpaku beku seperti ada badai salju yang menghatam dan
memaksa kami untuk diam mematung.
***
Selama pelajaran
berlagsung kami tak terlalu banyak bicara. Otakku dipacu untuk mengerti hingga
waktu istirahat tiba. Saat bel istirahat berbunyi, dengan segera aku
membersihkan benda-benda yang ada di atas meja. Setelah selesai kami langsung
menuju kantin menyusuri koridor kelas tujuh.
Di
perjalanan…
“
Ran, lihat coba! Itu kelas tujuhkan? Hiasannya sama kaya kelas kita kan? Uhh..
gak kreatif dasar” Ucapku kesal
“
Hmm… iya juga Lis. Bagus sih tapi gak ada lagi gitu hiasan lain.
Menyebalkan” Ucap Rani yang tak kalah ketusnya
“
Semenarik apa sih hiasan itu bagi
mereka? Sampai angkatan terdahulu kita punya ide seperti itu!”
“
Kamu ini Lis. Mungkin mereka tertarik karena indah. Inget gak lagi kita masa
mopd dulu, kita juga gitu kan?”
“
Emang sih” Jawabku singkat
“
Mungkin di balik hiasan bintang itu memiliki makna”
“
Makna? Ahh entahlah, lebih baik kita mempercepat langkah kita takutnya kantin
sudah sesak dengan keremunan manusia” Ucapku
Tanpa
ada jawaban, Rani sudah mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan aku yang
masih mengoceh sendiri di belakang.
“
Rani! Tunggu” Ucapku setengah berlari dengan memasang wajah sedikit kesal
“
Hehehe… habis kamu jalannya lambat” Ucap Rani meledekku
“
Awas kau ya!!” Aku pun berlari mengejar Rani
Kami
pun tertawa kecil sambil menikmati waktu istirahat yang singkat ini. Kesempatan
ini tak ingin disia-siakan karena aku sadar hal ini tak akan berlangsung lama terutama
menghabiskan waktu bersama sahabat. Andai waktu bisa kuhentikan untuk sementara
mungkin momen ini akan ku pertahankan walau hanya sehari.
***
Jam
dinding terus berputar mengikuti porosnya membuat kenangan untuk beberapa detik
yang lalu. Hari ini pun hampir usai dan meninggalkan lelah. Setelah sampai di
rumah, ku lempar tas dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Suara yang
berasal dari perut pun kuhiraukan. Rasanya ingin segera pergi ke alam mimpi bila
aku tak ingat akan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Pikiranku
pun melayang. Teringat satu hal yang menjanggal dihati belakang ini, hiasan
bintang itu. Entah mengapa rasa penasaran itu terus bergejolak di dalam
batinku. Aku pun tak mengerti hingga aku masuk dalam rasa penasaran yang teramat
sangat. Ada apa dengan hiasan bintang itu?
“Andai
aku tahu semuanya. Bintang ? Tolong beri tahu sedikit rahasiamu. Aku tahu kau
selalu bersinar di tengah gelapnya malam kau juga selalu menjadi pujaan setiap
orang. Tapi apa kau tahu makna hiasan bintang itu? hufttt” Ucapku yang masih
berada di posisi nyamanku
Langkah kecil membawa kakiku keluar rumah
walau aku tahu tubuhku menolak keras untuk meninggalkan pulau kapuk. Namun ada
dorongan besar untuk terus melangkah hingga ke halaman rumah. Sejuknya pikirku
ketika aku sudah berada di ambang pintu. Malam ini begitu cerah, bintang pun
banyak bertaburan di langit malam. Bintang? Pesonamu itu membuat malam lebih indah. kau diciptakan
untuk menemani bulan menerangi dunia ini. Kuharap akupun segera tahu makna
hiasan bintang itu. Batinku.
Tak
terasa sudah setengah jam berlalu menikmati dinginnya angin malam. Walau aku tahu
itu tak baik untuk kesehatan. Memperhatikan bintang-bintang itu membuatku
nyaman. Bisakah aku menjadi bintang? Yang bisa membuat orang yang melihatku
merasa nyaman? Entahlah, pertanyaan yang
tiba-tiba datang menyerangku.
Rasa
kantuk mengahampiriku. Kelopak matapun sudah terasa berat. Kuajak tubuhku untuk
beristirahat lalu pergi ke alam mimpi meninggalkan dunia ini untuk semalam.
***
Embun
pagi sudah menyabutku dengan lembut. Sinar matahari pun sudah menyapa. Menemani
langkah pagi untuk pergi ke sekolah dengan kaki yang kubawa setengah berlari. Lagi-lagi
senyum yang sama terlukis di wajah.
Sekolah
menjadi salah satu alasanku untuk terus bangun pagi dibawah langit biru yang
selalu menjadi payung raksasa. Tempat yang selau menjadi harapan bagiku untung
menjujung tinggi tanah air ini. Menjadi tempat yang penuh cerita antara aku dan
mereka.
“Rani!!”
Sapaku dari kejauhan sebelum sosok itu mendekati anak tangga
“Eh
Lisa! Ceria banget nih, what happen?
Bagaimana dengan malammu?” Ucap Rani yang mendekati ku setelah menyimpan tas
gendongnya.
“Seperti
biasa selalu ada cerita di setiap malamnya”
“Kali
ini cerita tentang apa Lis? pasti ada hal yang luar biasa seperti malammu yang
selalu penuh dengan kejutan” Ucap Rani dengan antusias, semangatnya seperti
orang yang akan tempur.
“Kejutan?
Hahah gak ada tuh. Tapi tadi malam begitu istimewa.”
“Istimewa?”
“Tentu saja malam ini
begitu istimewa. Kau tahu kenapa? Aku puas sekali dapat menatap langit malam
yang penuh bintang, hingga rasa kantuk pun datang menyerangku. Kau tahu? bintang di
langit itu sangat indah, aku pun tak kuasa untuk berhenti menatapnya. Hingga
aku tahu jawaban dari semua ini” Ucapku
tersenyum tipis
“Jawaban
tentang apa Lis?” ucap Riri penasaran
“Hiasan
bintang yang ada di langit-langit kelas kita”
“Kau
sudah menemukan maknanya? “ Tanya Riri dengan wajah penasaran
“Tentu
saja. Semua makhluk dan benda yang diciptakan di dunia ini memiliki peranan
masing-masing. Bintang di langit-langit kelas ini sama halnya dengan bintang
yang ada di langit malam. Mereka memiliki tugas untuk menerangi. Hiasan bintang itu diibaratkan kita yang
memiliki prestasi yang tak ternilai. Orang yang melihat kita pun akan merasa
bangga memiliki kita. Oleh sebab itu,
hiasan bintang itu di tempatkan di langit-langit”
“Hmm…
benar juga”
“Kau
tahu keinginan ku saat ini? Aku ingin menjadi bintang”
“Bintang?
Bisakah?”
“
Tentu saja Karena tidak ada hal yang tidak mungkin”
“Bagaimana caranya?”
“Itu hal yang mudah,
aku cukup menjadi bagian cerita dari
kehidupan mereka. Hal itu membuatku ingin menjadi bintang untuk menerangi
hidup semua orang yang kukenal. Termasuk juga di hatimu Ran karena kau
sahabatku” aku pun tersenyum
Namun,
ketika aku berbicara suara bel masuk berbunyi memenuhi setiap sudut sekolah. Suaraku
pun tertutupi oleh gelombang bunyi tersebut terutama bagian akhir.
“Apa
Lis? aku gak dengar”
“
Syukurlah kalau gitu, nanti kamu kamu keGRan lagi”
“Ahh
Lisa. Apa sih? Jangan buat aku penasaran”
“Cari
tau aja sendiri. Dah aku masuk dulu” Ejekku
“Awas
kau ya!” Rani pun berlari mengejarku lalu menggelitiki tubuku yang mungil.
Aku
hanya ingin menjadi bintang bagi semua orang yang aku sayang. Bintang yang
selalu ada menerangi di balik semua cerita mereka. Bintang yang selalu menerangi dan memberi kesejukan
di hati mereka. Termasuk di hatimu. TEMAN.
0 komentar:
Posting Komentar