Selasa, 22 Maret 2016

contoh cerita pendek (cerpen)

Bintang di Langit-langit Kelas
Oleh : Syifa Indah Suci Ati

“Hai!” Sapa seseorang yang berada dibelakangku. Suaranya yang khas sudah sangat familiar di telingaku.
            Saat menoleh kebelakang, aku melihat sosok itu. Sosok yang sudah kuanggap keluarga sendiri dialah sahabatku, Rani.
            Pandanganku berubah seketika. Mereka yang berada di lapang sekolah kuhiraukan. Tak seperti biasanya mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan aku sanggup mematung memperhatikan mereka dengan waktu yang cukup lama dari lantai dua di depan kelas. Melihat mereka bagiku seperti melihat kepingan kecil skenario kehidupan di dunia ini. Namun, fokusku sekarang hanya ke satu titik, Rani. Dalam beberapa detik kemudian kami sudah tenggelam dalam pembicaraan yang seru dan sesekali suara tawa terdengar diantara pembicaraan yang ringan itu.
            Sayang hal itu tak berlangsung lama. Dering bel masuk sudah memunuhi setiap sudut sekolah yang tersapu oleh angin. Kami pun yang berada di halaman sekolah terpaksa harus memberhentikan aktivitas. Dengan langkah yang berat kami beriringan masuk ke ruang kelas diikuti oleh yang lainnya.
***
            Suasana gaduh yang selalu memunuhi atmosfer kelas tidak membuat kami kekurangan oksigen. Ocehan teman-temanlah yang menjadi salah satu penyebabnya. Ujung bibir pun tertarik membuat sebuah senyum melihat pemandangan yang sudah tak asing lagi bagiku. Tak seperti biasanya aku yang  selalu angkat bicara membuat seisi kelas menatap walau akhirnya aku tahu mereka akan berhenti sejenak lalu membuat kegaduhan lagi. Huftt menyebalkan.
            Bahagia melihat tingkah mereka yang menyebalkan dan keras kepala.  Melihat mereka yang penuh aksi dan selalu membuat hati menari bahagia. Rasa sedihpun datang menerpa, ketika sadar hal ini tidak akan kurasakan lagi untuk waktu yang cukup lama. Setelah dua tahun lebih kita bersama apakah kita harus berpisah? Setiap pertemuan pasti ada perpisahan jawabannya. Tapi apakah aku sanggup berpisah dengan mereka? Perpisahan memang hal yang menyebalkan bagiku. Kalau saja aku bisa menghapus kata perpisahan mungkin di dunia ini tak akan ada yang bersedih. Namun sayang itu hanya sebuah ketidakmungkinan.
            Bah air mata pun jatuh tak terbendung, untung saja hujan air mata bisa kuhindari. Dengan cepat kuusap sudut mata dengan ujung lengan baju. Aku tatap langit-langit kelas yang penuh hiasan ornamen bintang. Indah pikirku.
            “Hei!! Kok bengong  sih?”Tanya Rani mengejutkanku
            “Eh… ngak kok Ran, liat itu tuh” Ucapku sambil menunjuk ke atas
            “Oh itu... tapi mata kamu kok merah. Jangan- jangan…”Tanya Rani curiga
            Dengan cepat aku menyela pembicaraan Rani dengan rasa khawatir “Indah kan? Aku suka sekali hiasan bintang itu, kalau kamu Ran?” Ucapku terbata-bata
            “ Hmm.. iya indah banget Lis” Ucap Rani sambil tersenyum
            Sepertinya Rani curiga melihat tingkahku, dengan cepat aku langsung menyibukkan diri dan tak berani berpapasan dengannya. Dalam beberapa detik kemudian suasana terasa hening. Kami saling terpaku beku seperti ada badai salju yang menghatam dan memaksa kami untuk diam mematung.
***
Selama pelajaran berlagsung kami tak terlalu banyak bicara. Otakku dipacu untuk mengerti hingga waktu istirahat tiba. Saat bel istirahat berbunyi, dengan segera aku membersihkan benda-benda yang ada di atas meja. Setelah selesai kami langsung menuju kantin menyusuri koridor kelas tujuh.
            Di perjalanan…
            “ Ran, lihat coba! Itu kelas tujuhkan? Hiasannya sama kaya kelas kita kan? Uhh.. gak kreatif dasar” Ucapku kesal
            “ Hmm…  iya juga Lis. Bagus sih tapi gak ada lagi gitu hiasan lain. Menyebalkan” Ucap Rani yang tak kalah ketusnya
            “ Semenarik apa sih hiasan itu bagi mereka? Sampai angkatan terdahulu kita punya ide seperti itu!”
            “ Kamu ini Lis. Mungkin mereka tertarik karena indah. Inget gak lagi kita masa mopd dulu, kita juga gitu kan?”
            “ Emang sih” Jawabku singkat
            “ Mungkin di balik hiasan bintang itu memiliki makna”
            “ Makna? Ahh entahlah, lebih baik kita mempercepat langkah kita takutnya kantin sudah sesak dengan keremunan manusia” Ucapku
            Tanpa ada jawaban, Rani sudah mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan aku yang masih mengoceh sendiri di belakang.
            “ Rani! Tunggu” Ucapku setengah berlari dengan memasang wajah sedikit kesal
            “ Hehehe… habis kamu jalannya lambat” Ucap Rani meledekku
            “ Awas kau ya!!” Aku pun berlari mengejar Rani
            Kami pun tertawa kecil sambil menikmati waktu istirahat yang singkat ini. Kesempatan ini tak ingin disia-siakan karena aku sadar hal ini tak akan berlangsung lama terutama menghabiskan waktu bersama sahabat. Andai waktu bisa kuhentikan untuk sementara mungkin momen ini akan ku pertahankan walau hanya sehari.
***
            Jam dinding terus berputar mengikuti porosnya membuat kenangan untuk beberapa detik yang lalu. Hari ini pun hampir usai dan meninggalkan lelah. Setelah sampai di rumah, ku lempar tas dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Suara yang berasal dari perut pun kuhiraukan. Rasanya ingin segera pergi ke alam mimpi bila aku tak ingat akan kewajibanku sebagai seorang muslim.
            Pikiranku pun melayang. Teringat satu hal yang menjanggal dihati belakang ini, hiasan bintang itu. Entah mengapa rasa penasaran itu terus bergejolak di dalam batinku. Aku pun tak mengerti hingga aku masuk dalam rasa penasaran yang teramat sangat. Ada apa dengan hiasan bintang itu?
            “Andai aku tahu semuanya. Bintang ? Tolong beri tahu sedikit rahasiamu. Aku tahu kau selalu bersinar di tengah gelapnya malam kau juga selalu menjadi pujaan setiap orang. Tapi apa kau tahu makna hiasan bintang itu? hufttt” Ucapku yang masih berada di posisi nyamanku
             Langkah kecil membawa kakiku keluar rumah walau aku tahu tubuhku menolak keras untuk meninggalkan pulau kapuk. Namun ada dorongan besar untuk terus melangkah hingga ke halaman rumah. Sejuknya pikirku ketika aku sudah berada di ambang pintu. Malam ini begitu cerah, bintang pun banyak bertaburan di langit malam. Bintang? Pesonamu itu  membuat malam lebih indah. kau diciptakan untuk menemani bulan menerangi dunia ini. Kuharap akupun segera tahu makna hiasan bintang itu. Batinku.
            Tak terasa sudah setengah jam berlalu menikmati dinginnya angin malam. Walau aku tahu itu tak baik untuk kesehatan. Memperhatikan bintang-bintang itu membuatku nyaman. Bisakah aku menjadi bintang? Yang bisa membuat orang yang melihatku merasa nyaman? Entahlah, pertanyaan yang  tiba-tiba datang menyerangku.
            Rasa kantuk mengahampiriku. Kelopak matapun sudah terasa berat. Kuajak tubuhku untuk beristirahat lalu pergi ke alam mimpi meninggalkan dunia ini untuk semalam.
***
            Embun pagi sudah menyabutku dengan lembut. Sinar matahari pun sudah menyapa. Menemani langkah pagi untuk pergi ke sekolah dengan kaki yang kubawa setengah berlari. Lagi-lagi senyum yang sama terlukis di wajah.
            Sekolah menjadi salah satu alasanku untuk terus bangun pagi dibawah langit biru yang selalu menjadi payung raksasa. Tempat yang selau menjadi harapan bagiku untung menjujung tinggi tanah air ini. Menjadi tempat yang penuh cerita antara aku dan mereka.
            “Rani!!” Sapaku dari kejauhan sebelum sosok itu mendekati anak tangga
            “Eh Lisa! Ceria banget nih, what happen? Bagaimana dengan malammu?” Ucap Rani yang mendekati ku setelah menyimpan tas gendongnya.
            “Seperti biasa selalu ada cerita di setiap malamnya”
            “Kali ini cerita tentang apa Lis? pasti ada hal yang luar biasa seperti malammu yang selalu penuh dengan kejutan” Ucap Rani dengan antusias, semangatnya seperti orang yang akan tempur.
            “Kejutan? Hahah gak ada tuh. Tapi tadi malam begitu istimewa.”
“Istimewa?”
“Tentu saja malam ini begitu istimewa. Kau tahu kenapa? Aku puas sekali dapat menatap langit malam yang penuh bintang, hingga rasa kantuk  pun datang menyerangku. Kau tahu? bintang di langit itu sangat indah, aku pun tak kuasa untuk berhenti menatapnya. Hingga aku tahu jawaban dari semua  ini” Ucapku tersenyum tipis
            “Jawaban tentang apa Lis?” ucap Riri penasaran
            “Hiasan bintang yang ada di langit-langit kelas kita”
            “Kau sudah menemukan maknanya? “ Tanya Riri dengan wajah penasaran
            “Tentu saja. Semua makhluk dan benda yang diciptakan di dunia ini memiliki peranan masing-masing. Bintang di langit-langit kelas ini sama halnya dengan bintang yang ada di langit malam. Mereka memiliki tugas untuk menerangi.  Hiasan bintang itu diibaratkan kita yang memiliki prestasi yang tak ternilai. Orang yang melihat kita pun akan merasa bangga  memiliki kita. Oleh sebab itu, hiasan bintang itu di tempatkan di langit-langit”
            “Hmm… benar juga”
            “Kau tahu keinginan ku saat ini? Aku ingin menjadi bintang”
            “Bintang? Bisakah?”
            “ Tentu saja Karena tidak ada hal yang tidak mungkin”
“Bagaimana caranya?”
“Itu hal yang mudah, aku cukup menjadi bagian cerita dari  kehidupan mereka. Hal itu membuatku ingin menjadi bintang untuk menerangi hidup semua orang yang kukenal. Termasuk juga di hatimu Ran karena kau sahabatku” aku pun tersenyum
            Namun, ketika aku berbicara suara bel masuk berbunyi memenuhi setiap sudut sekolah. Suaraku pun tertutupi oleh gelombang bunyi tersebut terutama bagian akhir.
            “Apa Lis? aku gak dengar”
            “ Syukurlah kalau gitu, nanti kamu kamu keGRan lagi”
            “Ahh Lisa. Apa sih? Jangan buat aku penasaran”
            “Cari tau aja sendiri. Dah aku masuk dulu” Ejekku
            “Awas kau ya!” Rani pun berlari mengejarku lalu menggelitiki tubuku yang mungil.

Aku hanya ingin menjadi bintang bagi semua orang yang aku sayang. Bintang yang selalu ada menerangi di balik semua cerita mereka. Bintang  yang selalu menerangi dan memberi kesejukan di hati mereka. Termasuk di hatimu. TEMAN.

0 komentar:

Posting Komentar