Dibalik Bulan Februari
oleh: Syifa Indah Suci Ati
Langit tampaknya menunjukkan sisi
lainnya, awan hitam itu berburu dengan cepatnya. Beberapa detik kemudian air mata langit pun
turun dengan suaranya yang begitu bising dan menimbulkan aroma tanah yang
sangat khas. Aku hanya menatap dalam-dalam rintikan hujan yang semakin deras
itu, niatku terurung untuk segera bergegas pulang. Hingga akhirnya aku hanya
bisa bertahan di tempat ini. Aku tahu ini sudah memasuki bulan februari, iya
kau benar ini bulan penghujan.
Rekaman kehidupan menyegarkan kembali
memoriku yang terhempas ke masa lalu, kembali tergambar jelas,seperti di depanku
terdapat sebuah proyektor yang menampilkannya, tepat 28 februari tahun lalu. Masa pahit itu datang menampar
jiwaku, sadar betapa gagalnya diriku menjadi seorang pemimpin.
Kejadian itu
membuatku terpukul. Betapa tidak, semua yang telah kita persiapkan selama dua
minggu lebih, hancur begitu saja. Aku terlambat berkumpul di ruang guru untuk
memberitahu rencana kami. Ketika aku datang, disana hanya ada meja,kursi dan
beberapa tumpukan buku tugas.kakiku terguntai lemah mendapati semua. Akhirnya kami
tak bisa tampil di acara gelar seni itu, hanya menjadi penonton setia. Panggung
tak kami sentuh sedikit pun. Teman-teman menjauhiku dalam waktu lama dan rasa
bersalah itu masih bersarang dihatiku, hingga saat ini.
Angin
menyapu ingatanku, aku mulai kembali lagi dengan duniaku. Udara yang semakin
dingin membawa kakiku masuk ke ruang kelas. Di sana hanya tinggal beberapa
murid yang masih bertahan, mungkin setengah jumlah murid kelas ini, itu pun
karena mereka masih mengerjakan tugas yang belum selesai. Aku menatap kosong
kelas ini, semua masih terlihat sama. Sepertinya
waktu berjalan begitu lambat memberi waktu untuk hujan berbagi cerita.
“ Hei! Kok
melamun? ada apa ?” Sosok periang itu
mengejutkanku
“ Gak kok,
Yu” Ucapku singkat
“ Serius? Gak mau cerita? Yasudah mungkin Ayu
gak bisa dipercaya” Ucap Ayu lirih
Sosok
periang dengan logat jawa yang sudah sangat khas membuat aku tak tega
melihatnya menyesal. Tubuh tinggi berkacamata itu lantas kembali larut kedalam
buku bacaannya. Menjelajahi setiap halamannya. Mulutku masih bungkam melihat
sosoknya yang berubah menjadi pendiam. Aku sudah kenal jelas wataknya, kita
sudah berteman baik sejak sekolah dasar.
“ Yu,
benar kau mau dengar ceritaku?” Kataku membuka pembicaraan itu
Dia
mulai melirik kepadaku, buku tebal itu ditutupnya. Pandangannya tetap tidak
berubah, memandangku beberapa menit. Hingga akhirnya dia menganguk kecil
“ Aku
harus mulai dari mana?” ucapku bingung
“
Mungkin dari awal”jawabnya singkat
“
Hmm.. jadi gini. Kamu tahu kan aku ketua murid di kelas ini dari kelas tujuh?”
ucapku
“ Iya
Den, lantas?”
“
kamu ingat kejadian satu tahun kebelakang? Acara gelar seni itu”
“
Hmm… tentu saja”
“ itu
semua salahku, aku datang terlambat karena terlalu sibuk di osis sedangkan
kalian semua sedang berlatih di rumah Rani. Alhasil kita tak bisa tampil. Jujur
saja hal itu masih menggangu pikiranku. Aku takut hal itu terulang lagi”
“ Aku
tahu kamu gak sengaja kok, lagian semua itu telah berlalu. Nasi sudah menjadi
bubur. Apa daya kita tak bisa berbuat apa-apa, waktu pun tak bisa di putar
kembali”
“ Aku
takut semua itu terulang”
“
Raden yang aku kenal itu,orangnya pantang menyerah. Kamu pernah bilangkan ke
aku tidak ada kesalahan yang kita lakukan tanpa ada penyebab, penyebab itu pun
tidak kita perbuat dengan sengaja. Karena semua orang tak ingin kecewa karena
kesalahan itu. inget gak?”
“ iya
aku tahu, tapi masalahnya tidak semudah itu, ini menyangkut banyak orang”
“
tapi aku yakin kali ini kamu akan lakukan yang terbaik, apapun itu caranya”
Dalam
beberapa detik kemudian, suasana terasa hening. Kami saling membungkam tak ada
yang berani angkat bicara. kami larut dalam pikiran masing-masing. Gemercik air
hujan semakin lambat. Matahari tampaknya sudah mulai mengintip dibalik awan
hitam itu, cahayanya menembus atmosfer langit.
“ Den kita
pulang bareng yuk? Hujan sudah reda ”
“ baiklah”
Dengan langkah malu, kami pun meninggalkan halaman sekolah
dan mulai menapaki jalanan ibu kota yang selalu padat dengan kendaraan dan tak
jarang haus akan kemacetan. Tinggal bayang-bayang kami yang tertinggal untuk beberapa menit
yang lalu. Asap kendaraan menyabut, menyadari betapa kerasnya kehidupan
dijalanan. Tak terasa kami sudah samapi di penghujung jalan dan pertigaan jalan
itu memaksa kami harus berpisah.
Kakiku terasa runtuh dibawa berjalan, penat
rasanya. Tubuhku lunglai, dengan sisa tenaga kubawa tubuhku beranjak dari
tempat itu, tujuanku satu saat ini, mencapai pulau kapuk. Tubuhku pun dengan
sigap ditangkap kasur. Dengan perlahan aku menutup mata.
***
Rasa takut itu masih menghantuiku,
kesalahan tahun lalu membuatku trauma, rasa percaya diriku hilang seketika.
Sosok diriku yang pemberani yang aku kenal sepertinya sudah pergi untuk
sementara. Aku hanya mematung dikamar, menatap semua yang bisu.
Tok .. tok …tok..
Suara ketukan pintu itu memecahkan
lamunanku, dengan langkah yang berat aku mendekati sosok yang berada di balik
pintu hijau itu. senyumnya sudah sangat familiar
bagiku. Wajah ayu yang sudah sangat melekat di tubuhnya seperti namanya Ayu.
“ hai Den! “ sapa Ayu
“ Iya Yu, ada apa? “
“
Gak kok Den, aku hanya ingin main saja sekalian mau belajar bareng”
“ boleh kok, ayo masuk”
Kami beriringin masuk diiringi suara
langkah kaki. Di rumah hanya ada kami berdua sehingga suasana terasa kaku.
Dalam waktu yang lama, lidah kami masih tak sanggup untuk berkata. Semuanya
terasa dingin bagai badai salju sedang berlangsung, membuat bibir kami bergemetar
kedinginan. Sehingga kami terlalu asik dengan pikiran masing-masing
“ hmm… Yu sebenarnya apa yang ingin
kau bicarakan?”
“ aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik
saja, aku khawatir kamu masih mengigat kejadian tahun lalu dan membuat kamu
takut untuk melangkah”
“ jujur saja aku masih takut,
dugaanmu benar aku jauh dari kata baik-baik saja”
“ kenapa Den? Aku tahu kamu bukan
orang seperti ini. Sosok dirimu yang berani bertindak dan mengambil resiko
pergi kemana? “
“ bukan pergi tapi dia sedang tidur”
“ tidur? Yang benar saja, kau hanya
perlu membangunkannya saja. Ingat mimpi burukmu telah berakhir. Semua itu hanya
mimpi buruk untuk kita, yang lain sudah terbangun tapi mengapa kamu masih terus melanjutkanya. Masih banyak mimpi indah
yang harus kita kunjungi kamu tak usah terlalu berlarut-larut. Bila kamu tak cepat keluar dari mimpi itu
maka hal yang indah tak akan pernah kau sempat sentuh apalagi untuk meraihnya.
Sudah cukup sampai sini, bangun teman. Bila kau tak bangun akan aku coba
membangunkanmu apapun caranya”
“ aku masih trauma, aku sudah bangun
tapi rasa takut itu masih tertinggal”
“Coba kamu pikirkan, apa dengan kamu
diam di tempat gelap kamu akan melihat cahaya? Memang sulit untuk berjalan pada
awalnya banyak benda diluar sana yang dapat melukaimu. Tapi semua itu untuk
menguji seberapa kuat kita untuk bertahan dan terus melangkah. Bila kamu sudah
menemukan seberkas cahaya kau akan menemukan cahaya lain sehingga hidupmu akan
lebih terang. Kamu bisa melihat semua yang menghalaumu hingga kau dapat melihat
jalan yang benar. Jangan takut, aku akan selalu ada untuk menemanimu, lihatlah
semua orang yang terus mendukungmu. Aku percaya kamu bisa, jangan takut akan
resikonya tapi cobalah takut bila kita tak mencobanya.” Ucap Ayu
“mungkin perkataanmu benar Yu, akan
kucoba untuk bangkit kembali” Jawabku lirih
“ syukurlah kalau kamu sudah
mengerti, ingat baik-baik tak akan ada kesuksesan yang diraih tanpa melewati
masa sulit” Ucap Ayu meyakikanku
“ makasih Yu, kamu sudah
menguatkanku. Aku yakin aku tak akan bisa berdiri kembali bila kamu tak ada
sosok sahabat sepertimu. Kamu memang yang paling mengertiku. Makasih selama ini
sudah mau menjadi sahabatku”
“ iya Den, aku tahu itu. Aku harus
ada untukmu karena aku tahu kamu selalu ada untukku. Itulah teman yang
sesungguhnya. Den aku pulang dulu ya! Jangan lupa istirahat. Persiapkan buat
besok, kumpulkan nyalimu untuk berbicara di depan kelas. Berbicara pada mereka
semua.”
“ Akanku yakinkan diriku untuk mempersiapkan
akan hal itu”
***
Embun pagi
sudah menyapaku dengan lembut. Cahaya matahari saling berkejaran menyetuh tanah. Aku sudah siap untuk menulis cerita hari ini,
siap untuk berbicara di depan mereka semua. Dengan langkah yang pasti aku
bergegas ke sekolah menyusuri jalanan aspal itu.
Waktu terus
berputar, pelajaran hari ini pun selesai. Guru bahasa Indonesia itu sudah
meninggalkan kelas kami di jam terakhir. Aku menarik napas, menyiapkan diriku.
Beranjak dari tempatku hingga posisiku tepat berada di depan kelas. Kucoba
melirik mereka, semua sibuk dengan aktivitasnya. Hanya Ayu yang memperhatikan
gerak- gerikku dari tadi. Tatapannya tajam penuh arti.
“ aku mohon
perhatiannya” aku mengeluarkan suara dengan nada keras
Tatapan
mereka beralih seketika penuh tanya.
“ Ada apa,
Den?” Ucap Doni
“ ini kan
sudah memasuki bulan februari seperti yang kalian tahu juga sekolah akan
mengadakan gelar seni. Kelas kita mau menampilkan apa?” Ucapku memulai
pembicaraan
“ yang benar
saja kamu mau ikutan gelar seni paling nanti kita gak tampil lagi kaya tahun
lalu” celetuk salah satu murid
Hatiku
terasa dihempas badai, sakit. Rasanya ingin menyerah. Namun sosok berkacamata
itu terus menyemangatiku dengan tatapannya yang membuatku masih bertahan. Tatapan
nanar mereka pun ku coba buang jauh-jauh.
“ Iya betul pada akhirnya kita hanya menjadi
penonton. Untuk apa kita berlatih hingga petang” Ucap Rani
“ dengar
dulu penjelasanku. Mungkin dulu kita tidak beruntung tapi lihat sekarang kita
punya kesempatan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita bisa dan mempunyai
keahlian. Apakah kita akan terus begini ? hanya akan menjadi penonton setia”
“ tidak
beruntung? Itu semua karena kamu” Ucap Doni
“ bukannya kita mau jadi penonton setia. Tapi
kami takut semua gagal karena kamu” Akhirnya Maryam si buku itu juga angkat
bicara.
“ kalau mau
kita tampil gak usah ada campur tangan
dari kamu Den, kita akan tampil tanpa kamu” Ucap Doni ngotot
Ucapan
mereka benar, nanti aku hanya membuat kesalahan yang sama. Tubuhku gontai, kaki
rasanya tidak sanggup lagi berdiri, air mataku sudah tak terbendung. Aku
putuskan untuk berlari, menghindari mereka. Berlari hingga aku sampai di depan
rumah. Semua barangku tertinggal di sekolah, tapi aku tidak peduli. Hatiku
terasa panas, tak menerima semua ini. Walau aku tahu salah, tapi aku hanya
ingin mencoba memperbaikinya.
***
Kejadian
tadi siang masih menghantuiku, rasa bersalah mulai menyelimutiku. Aku seperti
pecundang yang berlari begitu saja melepaskan tanggung jawabku apalagi aku ini
anak laki-laki. Aku benar- benar payah.
Kamu pasti bisa menyelesaikan semua ini
Sebuah pesan
singkat dari Ayu yang begitu banyak ungkapan harapan dibalik itu . Aku melirik
tasku yang diantar oleh Ayu, sungguh dia sahabat yang sangat setia. Aku
beruntung memilikinya. Telepon genggam itu masih erat di tanganku. Banyak hal yang
sedang merasuki pikiranku. Tanpa sadar jari
tanganku menari diatasnya.
Aku tahu aku
salah waktu itu. tapi apakah kalian tidak memberi kesempatan untuk aku
memperbaikinya? Aku hanya ingin kalian mengerti bahwa aku
benar-benar menyesal. Bila aku diberi kesempatan aku akan lakukan yang terbaik.
Aku tahu karakter kita berbeda, kita terlahir dari suku yang berbeda juga. Aku
hanya ingin kita bersatu meraih semua mimpi bersama. Memang aku bukan ketua
murid yang sempurna tapi akan aku coba untuk menyempurnakan mimpi kita. Jangan
coba berjalan sendiri karena aku pun tak akan bisa tanpa kalian. Karena aku
tahu kita keluarga.
Aku pun mengirimkannya di salah satu sosial media dalam
beberapa menit kemudian banyak komentar yang datang. Aku hanya tersenyum senang
melihat semuanya. Perasaanku lega. satu misi terakhirku, membuatnya menjadi
nyata.
***
“ Den maaf
karena aku menyalahkanmu” Ucap Rani.
“ aku juga
Den, mungkin terbawa emosi” Ucap Doni dengan wajah yang sangat menyesal.
“ maafkan
kami semua, kita gak bermaksud untuk lukain kamu, aku tahu kejadian tahun kemarin
tak kau buat sengaja” Ucap Maryam
“ iya gak
apa-apa teman, aku ngerti betapa kecewanya kalian hari itu. Peluh kalian selama ini yang bercucuran hanya
terbuang sia-sia” Ucapku terharu
“ kita
perbaiki semuanya kembali, kita tunjukkan bahwa kita bisa” Ucap Rani
“ satu hal
yang paling penting saat ini. Kita akan menampilkan apa?” Ucap Ayu
“ drama”
Usul Ucok
“ tari
jaipong” Tambah Rani
“ jaipong?
Kalau cowo?” Sahut Kiki
“ nyanyi
lagu daerah” Ucap Maryam
“ kuda
lumping aja” Ucap Doni
“ main
tanjidor aja?” Ucap Dul
“ kalian
gimana sih pada bawa-bawa budaya sukunya masing-masing” Sahut Ayu
“ karena
budaya betawi lebih bagus” Ucap Dul
“ sunda”
Tambah Rani
“ “jawa lah”
Ucap Doni
“ udah gak
usah debat. Negara ini kaya akan budaya. Kita memilki 34 provinsi dan kita
saling menghargai akan budaya daerah lain. Kalian tahu semua daerah memilki
keistimewaan tersendiri, yang perlu kita lakukan adalah melestarikannya. Semua
bisa kita gabungkan menjadi suatu seni yang indah. Karena perbedaan itu ada
untuk saling melengkapi. Bila semuaya disatukan pasti akan menjadi seni yang
indah”
“ emang
bisa?” Ucap Rani
“ caranya
Den?” Tambah Asep
“ tidak ada
yang tidak mugkin, hanya perlu belajar. Ilmuan contohnya mereka banyak menciptakan
hal yang baru yang akhirnya diterima di masyarakat luas. Aku punya ide
bagaimana bila sebagian anak perempuan menari jaipong diiringi lagu daerah jawa
pada akhirnya tari itu diiringi tanjidor. Untuk penutupnya kita berpuisi
tentang budaya negeri ini. Lalu kita
menyanyi lagu kebangsaan Indonesia.Bagaimana setuju?”
“ boleh aku
setuju, diakhir kita pun mengucapkan terima kasih dengan bahasa daerah yang
berbeda-beda” Ucap Doni bersemangat
“ boleh aku
setuju” Ucap Ayu, dan diikuti oleh muri lainnya.
Pada akhirnya
mereka setuju akan keputasan itu. Dari masalah yang mereka hadapi saat itu
banyak mengajarkan kepada mereka apa artinya persahabatan, kebersamaa, dan
perbedaan yang membuat mereka bersatu. Untuk hal yang terpenting mereka tahu
bahwa dalam hidup kita tidak boleh berputus asa.