mataku terus memperhatikan sosok pria yang ada tepat di depanku, mulutnya terus saja bergerak, bercerita tentang tumbuhan yang sama sekali tak kumengerti. Yah benar dia itu guru Ipa.
Mataku terpenjam sesaat namun aku mencoba menahan rasa kantuk yang mulai menyelimutiku. Pikiranku melayang entah berlari kemana, yang aku tahu semua pandangan di depan papan tulis itu tampaknya tidak menarik lagi. aku tersadar rupanya rasa gelisah hinggap dalam benakku. Sering kali aku menatap tajam jam dinding biru itu, sepertinya jarumnya tak bergerak. tapi bukan hal itu yang aku permasalahkan, jarumnya bergerak lambat seolah mengajak bertempur dengan rasa bosanku.
kulihat beberapa orang sudah berlalu-lalang melintas di depan kelasku. Rasanya ingin cepat mendengar suara bel istirahat. Ahh aku geram melihat mereka. Namun ku coba buang jauh-jauh perasaan itu dan menikmati sisa waktu ini. Dengan wajah yang mulai kusut aku melihat mereka dengan tatapan kosong. Tanganku terus saja menari di atas kertas itu, membuat berbagai tulisan yang tak tertata. Dilihat-lihat bisa saja tulisanku menjadi sebuah seni yang indah, tentu saja seni abstrak.
posisiku masih sama , duduk termenung. kudengar suara tertawa yang sangat menganggu otakku yang sedang kupaksakan fokus memperhatikan tulisan di papan tulis itu. Aku melihat mereka dengan tajam, rupanya mereka anak kelas tujuh. Jujur saja entah apa yang mereka bicarakan hingga suara mereka masuk dalam cerobong pendengaranku.
Tak lama setelah melihat tubuh mereka. Tubuh mereka seperti tergontai salah satu kaki gadis itu tampak tersandung tepat di daun pintu kelas kami. Bluk... Suara itu nyaris memenuhi atmosfer kelas kami yang sedang sunyi. Rupanya gadis itu pun jatuh dan menerbangkan nasi kuning yang sedang digenggamnya. Salah satu terjun ke lantai satu dan mendarat di lapang sedangkan yang satu lagi melayang persis di depannya. Dengan cekatan dia langsung membenarkan posisi tubuhnya, berdiri dengan wajah polos seolah semua tak terjadi.
Namun, wajah mereka memerah seketika. Bagaimana tidak seisi kelas menatap mereka dengan wajah aneh sambil menahan tawa. Sepertinya mereka ragu untuk mengambil kembali nasi kuning itu dan terus saja mengoceh
" sana kamu aja yang ambil "
" gk mau, kamu aja "
mereka pun terus saja berbicara seperti itu dengan tubuh yang bergetar dan suara paruh antara ragu dan ingin tertawa. Saat mereka hilang dari pandangan, suara tawa begitu nyaring ditelinga, teman sekelasku semua nampak senang mereka seperti baru saja melihat pertunjukan akrobatik.
Tak lama dari kejadian itu bel istirahat pun berbunyi. dengan cepat aku pun menerpa angin dan melewati kerumunan orang untuk membeli sesuatu untuk dimakan.
Singkat cerita,setelah kejadian itu saat kita bertemu mereka selalu menahan tawa sambil bersalaman denganku dan aku selalu bilang pada mereka
" Nasi kuning kan?" ucapku
mereka pun tertawa dan memutar kembali ingatan tentang kejadian nasi kuning yang melayang.
0 komentar:
Posting Komentar